Mari Kita Rawat Bersama Bumi Yang Kita Huni.

Kalian ngerasa ga kalau akhir-akhir ini cuaca ektrim sekali. Sebelumnya saya menempati rumah tinggal saya tuh adem banget. Bahkan kalau tiduran di ubin siangpun dingin dan sejuk. Dan kami sekeluarga dari dulu tidak pernah memakai AC ataupun kipas angin dirumah. Baik siang hari maupun malam hari. Tapi belakangan ini didalam rumah panas luar biasa. Kami jadi seharian sering kipasan. 

Dan kalau hujan pun luar biasa ekstrimnya. Angin kencang, lebat dan disertai petir. Ngeri banget padahal kondisi sedang di dalam rumah. Pun ketika kami mudik ke kampung halaman di Jawa Tengah, kampung yang dimana dulu saya rindukan berubah cuacanya seperti di Jakarta. Tidak ada lagi keteduhan  dan angin semilir dari sawah. Pemandangan sawah kini berubah menjadi perumahan bertingkat. Sungguh saya kangen dengan susana kampung yang dulu. Dimana ada kesejukan, rutinitas pagi melihat pemandangan sawah yang sejuk dengan pohonan padi yang bikin mata seger. Suara gemericik air mengalir pun terdengar begitu merdu membuat hati tenang. Tapi sekarang semua itu sudah tak ada lagi. Iya ini semua karena pengaruh Emisi Karbon. 

Emisi Karbon

Carbon emissions atau emisi karbon merupakan proses karbon dioksida ke atmosfer yang terjadi secara alami maupun dipicu aktivitas manusia, seperti deforestasi, konsumsi listrik, hingga kegiatan industri manufaktur. Dalam hal ini, emisi karbon merujuk pada pembakaran segala senyawa yang mengandung karbon, seperti CO2, kayu, hingga bahan bakar hidrokarbon. Saat ini, jumlah jejak karbon di atmosfer sudah mencapai level yang tidak mungkin untuk diserap secara alami. 

Jika tidak ada perubahan serius dalam mengatasi akibat pemanasan global, maka intensitas gelombang panas, meningkatnya permukaan air laut, pencemaran udara, dan dampak perubahan iklim lainnya akan semakin membahayakan.

Sebagai bagian dari penduduk bumi, sudah seharusnya kita bersama-sama menekan global warming dengan memahami dampak negatif emisi karbon dan cara menguranginya.

Dampak Emisi Karbon

Secara umum, emisi gas rumah kaca menjadi penyebab global warming dan memicu perubahan iklim. Konsekuensinya adalah menimbulkan anomali cuaca ekstrem, meningkatnya suhu bumi, meningkatnya permukaan laut, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan hujan lebat.

Dampak Terhadap Kesehatan

Perubahan iklim memicu munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bakteri, virus, dan parasit. Sebab, mikroorganisme tersebut tumbuh subur akibat meningkatnya suhu bumi. Selain itu, polusi udara dan cuaca ekstrem, seperti kemarau panjang, hujan kencang, atau gelombang panas juga berdampak pada kesehatan manusia. Cuaca ekstrem juga memengaruhi kerusakan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, hingga tiang listrik. Pemanasan global yang memicu berbagai bencana secara tidak langsung juga berdampak terhadap ekonomi.

Bumi yang kita pijaki memang terbilang sudah tua. Dan karena kita tidak menjaga dan merawatnya dengan baik maka bumi mengalami banyak perubahan. Banjir, tanah longsor, kerusakan alam, dan berbagai macam bencana timbul oleh tangan-tangan manusia. Bumi kita tidak utuh lagi, dan hal itu tampak jelas kita rasakan bersama akibatnya saat ini. 

Tentunya, sebagai masyarakat bumi kita perlu menjaganya, karena kita yang merusaknya maka kita pula yang marus merawatnya. Tidak perlu yang susah-susah, cari cara sederhana merawat dan melindungi bumi yang kita pijaki bersama. 

Fakta dan Kondisi terkini tentang lingkungan di Indonesia. 

Dikutip dari Okezone.com Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan fenomena perubahan iklim semakin mengkhawatirkan serta memicu dampak yang lebih luas. Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa alam terkait iklim, dari suhu udara yang lebih panas, terganggunya siklus hidrologi, hingga maraknya bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia.

Perubahan iklim menjadi isu yang harus diperhatikan karena ini memiliki dampak dan resiko yang besar terlebih pada keberlangsungan makhluk hidup dan generasi di masa mendatang. Karenanya, perlu aksi pengendalian perubahan iklim yang konkret dari seluruh lapisan masyarakat,” ungkap Dwikorita dalam keterangan resminya, Senin (20/3/2023).

Tindakan Nyata Yang Dapat Di Lakukan Untuk Meminimalisir Dampak Tersebut Dengan Cara Mengurangi Emisi Karbon. 

Cara Mengurangi Emisi Karbon

Selain menjadi tugas negara, kita sebagai individu juga bisa memangkas jumlah emisi gas rumah kaca untuk menghambat perubahan iklim. Berikut ini beberapa caranya:

1. Membuang sampah pada tempatnya

Setiap harinya manusia tidak akan lepas dengan yang namanya sampah. Manusia bisa dikatakan sebagai konsumen terbesar dalam proses kehidupan kita. Jadi pastikan sampah dari sisa makanan atau bungkus apapun itu masuk di tempat sampah. Karena sampah merupakan salah satu alasan terbesar terjadinya banjir.

2. Kurangi penggunaan berbahan plastik

Plastik merupakan bahan yang paling sering kita gunakan. Padahal, plastik memiliki jangka waktu yang lumayan lama untuk bisa terurai di tanah. Pembakaran plastik pun juga akan mengganggu kesehatan. Mengurangi penggunaan berbahan plastik saya lakukan sejak lama. Saya mengurangi pemakaian berbahan plastik seperti mengurangi penggunaan sedotan. Selain itu saya juga mengganti kantong saat belanja dengan menggunakan tas yang berbahan kain.

3. Mendaur ulang sampah

Di daerah rumah saya ada kelompok ibu-ibu mendaur ulang sampah menjadi hal yang bermanfaat. Dan itu bisa menjadi peluang bisnis juga lho. Siapa sangka limbah yang terlihat tidak bisa digunakan itu bisa kita olah menjadi suatu kerajinan dan dapat menghasilkan uang.

4. Menghemat air

Pakailah Air seperlunya, karena Air adalah sumber kehidupan manusia. Akan kesulitan jika hidup tanpa air. Hampir segala aktivitas melibatkan air, seperti minum, mandi, mencuci, dan lain-lain. Tapi kita harus sadar, bahwa sumber daya alam itu akan habis jika kita tidak menggunakannya sebijak mungkin. 

5. Menanam Pohon

Deforestasi adalah salah satu penyebab utama emisi karbon. Padahal, pohon bisa menyerap dan menyimpan karbon secara alami. Untuk itu, menanam pohon merupakan cara termurah untuk meredam emisi karbon. 

Meski saya tidak memiliki lahan tapi saya tetap berusaha menanam pohon di rumah dengan menggunakan pot. Meski hanya menanam di pot tapi terlihat pemandangannya alami dan indah. 

6. Efisien dalam menggunakan transportasi

Meski tidak semua orang bisa meninggalkan kendaraan dengan bahan bakar fosil, mengurangi berkendara dan beralih ke transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki bisa menurunkan jumlah emisi karbon. 

Nah, sesederhana itu bukan?

#BersamaBergerakBerdaya #UntukmuBumiku ini, kita hanya perlu membiasakan dan mulai dari diri sendiri. Mari kita rawat bersama bumi yang kita huni. Kalo tidak kita yang merawatnya, siapa lagi? 

Kalau saya memiliki kesempatan untuk membuat kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi mitigasi resiko perubahan iklim, maka kebijakan yang saya ambil adalah mengurangi penebangan pohon di hutan. Selain itu juga sawah ataupun kebun di desa-desa sebaiknya di biarkan seperti itu saja, bukan dijadikan perumahan, apartemen apalagi gedung. Karena hanya itulah yang membuat suasana dipedesaan beda dengan suasana diperkotaan.

Kalau #BersamaBergerakBerdaya versi kalian apa nih? 

Boleh dong tulis di kolom komentar ya!


 

Komentar