Selasa, 15 Agustus 2017

Pemenuhan Hak Kesehatan Dan Gizi Pada Anak Adalah Tanggung Jawab Bersama

Posted by tina sindi on 06.11 with 4 comments

Hari Senin 07 Agustus 2017 saya berkesempatan hadir di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2017, dengan tema pembahasan "Pemenuhan Hak Kesehatan Anak Untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045".


Kondisi anak-anak saat ini merupakan gambaran masa depan bangsa. Pemenuhan hak-hak anak, termasuk hak tumbuh kembang, kesehatan, dan pendidikan menjadi penentu utama masa depan Indonesia.


Badan Pusat Statistik ( BPS ) mengumumkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2017 sebanyak 27,77 juta orang ( 10,64% ). Sebanyak 11 juta jiwa atau sekitar 40% dari jumlah penduduk miskin tersebut adalah anak-anak.


Bila melihat pada data kemiskinan diatas, terlihat jelas masih banyak anak-anak yang belum dapat menikmati hak-haknya. Unicef menyebutkan, salah satu indikator deprivasi atau tidak terpenuhinya hak-hak dasar anak adalah bila anak tidak mendapat gizi seimbang.

Hadir sebagai Narasumber dalam acara Talkshow ini adalah Ibu Dra. Leny Nurhayati Rosalin selaku Deputi tumbuh kembang anak kementrian pendidikan dan perlindungan anak, memberikan sambutan dan sekaligus menegaskan bahwa Indonesia harus mempersiapkan layak anak tahun 2030. Semua harus terlibat dalam mempersiapkan layak anak 2030 ini, bukan hanya negara tapi juga harus didukung oleh anak, keluarga, sekolah dan lingkungan, serta region atau wilayah tempat tinggal, harus saling bahu membahu demi terciptanya anak yang kecukupan akan gizi dan tumbuh kembangnya.

Dalam upaya menciptakan anak generasi emas tahun 2045 kita harus mempunyai strategi, strategi langsung diberikan ke anak melalui :

  1. Forum Anak ( FA ).
  2. Sekolah Ramah anak ( SRA ).
  3. Pusat Pembelajaran Keluarga ( Puspaga ).
  4. Pojok Kesejahteraan Anak ( Pojok kesan ).
  5. Pusat Kreativitas Anak ( PKA ).
  6. Ruang Bermain Ramah Anak ( RBRA ).

Sebanyak 87 juta anak mendapatkan hak sipil kebebasan lingkungan, Keluarga dan pengasuhan. Anak berhak mendapatkan gizi yang baik demi tumbuh kembangnya. Gizi yang baik akan membuat anak berkembang dengan normal.

Persoalan gizi dan tumbuh kembang anak ini juga disampaikan oleh dr. Rahmat Sentika, Sp. A, MARS, Anggota Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI ).
Menurut dr. Rahmat asupan gizi anak bukan semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi keluarga, melainkan juga kurangnya pengetahuan ibu. Anak-anak sudah seharusnya diberikan ASI tetapi malah diberi makanan lain yang tinggi kandungan gula, garam dan lemak. Tidak heran kalau saat ini obesitas dan diabetes pada anak meningkat.

Dr. Rahmat juga berkali-kali mengingat kan agar anak harus rutin di ajak ke posyandu dan juga rutin diberikan imunisasi. Imunisasi ini akan membebaskan anak dari berbagai macam penyakit. Selain Imunisasi anak juga perlu ditimbang dengan rutin. Hal ini akan membuat anak terkontrol kesehatannya dan perkembangan tubuhnya dengan baik. Sebagai ibu harus tahu dan paham akan kebutuhan anaknya. Orang tua harus selalu rutin memeriksakan semua kebutuhan anak, dari mulai menimbang badan, mengukur tinggi badannya dan juga imunisasi nya.

Untuk mengontrol masalah gizi pada anak, diperlukan kerjasama dari seluruh pihak. Tujuannya supaya kita semua peduli pada asupan pangan anak. Pemerintah juga sudah seharusnya ikut turun tangan memberikan perhatian lebih terhadap keamanan pangan yang dikonsumsi anak, melalui pengawasan yang ketat terhadap produk pangan yang beredar dimasyarakat. Khususnya makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak. Produsen makanan agar dapat lebih bertanggung jawab dalam memberikan informasi penggunaan produk yang tepat kepada konsumen.


Pemerhati iklan Dr. Winny G. W juga menegaskan sebagai orang tua kita juga dituntut harus pintar dalam memilih iklan, baik dimedia elektronik maupun di media cetak. Banyak produk makanan dan minuman untuk anak-anak yang diiklankan di media televisi tidak secara terbuka memaparkan komposisi yang terkandung dalam produknya saat menayangkan iklan di televisi. Karena fokusnya lebih untuk menjual produk semata, tanpa menyelipkan nilai edukasi nya, jelas ketua Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia ( YAICI ).

Direktur Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes R.I. Dr. Eni Gustina MPH, banyak iklan produk makanan dan minuman yang menyesatkan konsumen.  Salah satunya adalah susu kental manis, yang semestinya bukan untuk dijadikan minuman, namun ditampilkan sebagai susu untuk minuman keluarga.

Dr. Eni juga menghimbau agar masyarakat peduli dengan tayangan-tayangan iklan yang tidak sesuai. Masyarakat dapat melaporkan jika ada tayangan iklan produk pangan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. “Misalnya iklan susu kental manis. Susu kental manis itu isinya gula sama lemak. Tapi diiklan ditampilkan sebagai susu. Jelas ini tidak sesuai tegas Eni.

Visual iklan yang tidak tepat serta frekwensi tayang yang tinggi inilah yang mengakibatkan masyarakat beranggapan susu kental manis adalah susu untuk diminum anak-anak. Bila hal ini terus berlanjut, dalam 20 tahun kedepan kesehatan anak-anak Indonesia jelas terancam. Asupan gula yang tinggi sejak dini beresiko tinggi terkena penyakit diabetes.

Apapun yang muncul ditelevisi harus dibuat dengan perspektif anak, termasuk iklan susu kental manis yang substansi sebenarnya bukanlah susu, namun disebut sebagai susu.

Susu kental manis pertama kali di produksi di Amerika pada abad ke-18, dengan cara menguapkan sebagian air dari susu segar (50%) kemudian ditambahkan gula 45%-50%. Karena sifatnya yang tahan lama pada saat itu banyak dipakai sebagai bekal tentara Amerika yang sedang terlibat perang saudara.

Dilihat dari komposisinya, susu kental manis mengandung 50% gula, 7,5% rotein, 8,5% lemak serta 34% air dna bahan tambahan lainnya. Dalam setiap takaran saji (1 gelas = 150 ml air dan 4 sendok SKM), mengandung 20 gr gula atau setara dengan 2 sendok makan. Jumlah tersebut terbilang tinggi mengingat anjuran asupan gula harian tidak melebihi 25 gr.  Jika asupan gula berlebihan, dapat meningkatkan resiko obesitas dan diabetes.

Semoga kedepannya diharapkan para orang tua dan juga seluruh pihak dapat bekerjasama dengan baik untuk mewujudkan generasi emas Indonesia, seperti yang ditargetkan tercapai di tahun 2045. Sosialisasi, edukasi dan penegakan regulasi akan pangan yang aman untuk anak memang menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, produsen produk makanan dan minuman diharapkan juga mulai melakukan promosi yang bertanggung jawab dan memberikan edukasi kepada konsumen, mengenai kandungan produk, cara penggunaan dan takaran penyajian. Jika konsumen teredukasi sejak dini, generasi penerus bangsa terhindar dari asupan makanan yang beresiko bagi kesehatan mereka dimasa mendatang.


Selasa 15 Agustus 2017
tinapurbo@gmail.com
Categories:

4 komentar:

  1. susu skm enak buat puding atau es campur, semoga anak-anak kita di masa depan sehat semua ya dan jadi generasi emas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba....berikan anak² kita susu yg pas komposisi, bila perlu Konsultasikan dl dgn dokter, agar anak kita sehat selalu

      Hapus
  2. Nah iya bener itu kata dr Rahmat masalah gizi sebenarnya tdk terbatas pada ekonomi tetapi kurangnya pemahaman ttg gizi pada orangtua. Yukk ahh terus belajar dan tetep belajar kita lewat jalan apa saja

    BalasHapus
  3. Setuju mba....sebagai orang tua hrs menimba ilmu terus dan terus untuk perkembangan buah hati

    BalasHapus